Posts

Menjadi dewasa

Menjadi dewasa tidaklah mudah. Tumbuh dan menjadi dewasa, berarti kita telah beranjak dari satu fase kehidupan dan memasuki fase kehidupan yang lain. Meninggalkan masa remaja dan mulai memasuki kehidupan nyata, serta mulai membuat keputusan nyata dan mengemban tanggung jawab atas hasil dari keputusan tersebut. Pelan tapi pasti, kita memegang kendali atas hidup kita, dan orangtua bukan lagi pengambil keputusan utama. Dahulu, saat kita kecil, mungkin sebagian besar dari kita merasa jenuh dengan berbagai aturan yang diterapkan orangtua dalam rumah, dan terpana melihat orang dewasa begitu bebas dalam menjalani kehidupan. Dahulu, mungkin kita ingin sekali cepat-cepat dewasa, agar bisa mencicipi nikmatnya kebebasan dan tidak melulu harus patuh pada aturan atau larangan ini-itu. Sekarang, saat saya perlahan-lahan meninggalkan masa remaja dan mulai beranjak dewasa, saya menyadari suatu hal; kenyataan bahwa kitalah pemegang kendali utama hidup kita terdengar sedikit menakutkan. Kenya...

Crap?

So I just checked out the amount of my blog posts here and I realized that I wrote a lot more 2 years ago than I did last year... ...which is disappointing, yes. Actually, during my first few weeks of college I intended to write a lot more especially since I'm in a new environment.. but it turns out it wasn't that easy. Not only am I swamped with assignments (I'm learning a foreign language and studying my major as well, gosh) I also haven't had the opportunity to have anything good to read, apart from college-related stuff. Which means I didn't have anything good to write about. Even now I don't; I just currently feel the need to pour my heart out. I also didn't want to write crap, either. You know, like meaningless stuff that leads to no conclusion. (Oh wait, then probably this post counts as crap... never mind) During winter break I started reading this really good book about moral philosophy and thankfully it had a few relations on t...

Sedikit perenungan

Tahun baru selalu identik dengan refleksi dan perenungan tentang apa yang telah terjadi, serta tekad untuk berubah menjadi lebih baik untuk setahun ke depan. Mungkin sedikit telat, tapi saya juga ingin berbagi mengenai apa yang telah saya pelajari dalam setahun terakhir. Secara pribadi, saya tak pernah membuat resolusi tahun baru karena tak pernah menganggapnya penting. Mimpi-mimpi saya terlalu besar untuk sekedar dibuat resolusi. Terlebih lagi, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi selama setahun kedepan. Namun tentu saja, saya selalu mengevaluasi perkembangan diri tiap tahun dan bertekad untuk terus berusaha lebih baik. Setahun belakangan, saya menyadari saya telah banyak berkembang. Pribadi saya berkembang menjadi lebih matang (meski belum sepenuhnya) dan pola pikir saya lebih logis dan terstruktur dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saya juga belajar banyak mengenai kerendahan hati serta ketangguhan dalam menjalani hidup. Saya juga menyadari betapa krusialnya menjaga hubungan...

Tolerance and critical thinking

So today I had this class called Workshop 1 and Workshop 2. Workshop 1 basically consists of how to write academic papers, while Workshop 2 is more focused on teamwork with your friends. What I'd like to discuss here is about these two personality traits that most Indonesians lack, which is tolerance and critical thinking. During a lecture in Workshop 1, the professor encouraged us to write academic papers that consists of 1000 words while stressing the importance of critical thinking. He then emphasized it by talking about someone who reads the news and truly believing in what it says without giving it a second thought that it might not be true. He then told us not to do that since we're college students now and are encouraged to think critically. All of a sudden it hit me. Just a few days ago I felt infuriated after reading a small piece of news from Indonesia about the government rejecting an investment proposal from Japan and instead gave the opportunity to China. ...

Introversion

Up to this day, I have currently stayed in Japan for about 2 weeks. My orientation is about to finish and by next week I'll start attending classes. I gotta admit, Japan is wonderful. The air's nice, it gets rainy and foggy sometimes and at the noon the sun shines too bright, but still, I love it. My campus is located on a mountain top and I currently live in a campus dorm right next to it. So far I've made a lot of friends, Japanese ones, fellow Indonesian ones, and other international students from various countries such as the US, India, Pakistan, etc. I've hung out with numerous people but somehow I haven't managed to get really close with any of them. I love socializing with other people, but I usually don't talk much when I'm in a group filled with people I don't know very well, because most of the time they make small comments on almost everything whereas I haven't yet achieved a strong connection with any of them in order for me to do th...

Perjalanan mengejar impian (3)

Saat kelas 3, saya pun mulai belajar habis-habisan agar nanti dapat lolos SBMPTN. Karena terlalu fokus belajar untuk SBMPTN, saya pun tak terlalu mengindahkan kesempatan mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Adakalanya saya jatuh sakit karena terlalu memaksakan diri dalam belajar, juga karena terlalu mengkhawatirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi di kemudian hari. Namun lama-kelamaan, saya berusaha untuk lebih santai dan menikmati apa yang saya pelajari, juga menghindari pikiran-pikiran negatif. Sekitar 1-2 minggu menjelang Ujian Nasional, saya menemukan ada kesempatan beasiswa S1 ke Australia dan Selandia Baru. Tentunya saya kaget karena tidak pernah mendengar tentang beasiswa tersebut sebelumnya. Awalnya saya begitu semangat ingin mendaftar, namun saya melihat tenggat waktunya tanggal 30 April, sementara waktu itu sudah awal April, menjelang Ujian Nasional. Tidak mungkin bagi saya jika harus menyiapkan dokumen yang diperlukan dalam waktu hanya beberapa minggu. Te...

Perjalanan mengejar impian (2)

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya merasa tak betah awalnya bersekolah di Al-Azhar dan teramat ingin pindah. Namun lambat laun, saya pun susah payah mencoba untuk beradaptasi dengan kegiatan akademik serta pergaulan di sekolah baru. Setelah beberapa bulan, saya mulai bisa menyesuaikan diri, walaupun masih agak kesusahan. Saya mulai lebih terbuka dengan teman-teman saya, dan berusaha untuk lebih semangat dalam kegiatan belajar, khususnya dalam pelajaran keagamaan. Saat saya menginjak kelas 2, saya terpikir untuk mengambil jurusan Hubungan Internasional saat kuliah nanti. Meski begitu, saya memilih untuk memasuki jurusan IPA, karena pada awalnya saya berpikir bahwa anak IPA akan bisa dengan mudah 'menyeberang' ke jurusan IPS saat menjelang ujian SBMPTN. Dan karena saya sudah lama sekali ingin pergi ke Jepang, saya pun terpikir agar suatu saat bisa berkuliah di Jepang dengan jurusan Hubungan Internasional. Namun lama-lama, impian itu perlahan mu...