Posts

Perjalanan mengejar impian (2)

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya merasa tak betah awalnya bersekolah di Al-Azhar dan teramat ingin pindah. Namun lambat laun, saya pun susah payah mencoba untuk beradaptasi dengan kegiatan akademik serta pergaulan di sekolah baru. Setelah beberapa bulan, saya mulai bisa menyesuaikan diri, walaupun masih agak kesusahan. Saya mulai lebih terbuka dengan teman-teman saya, dan berusaha untuk lebih semangat dalam kegiatan belajar, khususnya dalam pelajaran keagamaan. Saat saya menginjak kelas 2, saya terpikir untuk mengambil jurusan Hubungan Internasional saat kuliah nanti. Meski begitu, saya memilih untuk memasuki jurusan IPA, karena pada awalnya saya berpikir bahwa anak IPA akan bisa dengan mudah 'menyeberang' ke jurusan IPS saat menjelang ujian SBMPTN. Dan karena saya sudah lama sekali ingin pergi ke Jepang, saya pun terpikir agar suatu saat bisa berkuliah di Jepang dengan jurusan Hubungan Internasional. Namun lama-lama, impian itu perlahan mu...

Perjalanan mengejar impian (1)

Setelah sekian lama tak menulis postingan di blog, kali ini saya memutuskan untuk bercerita mengenai perjuangan saya mencapai impian saya yang kini telah tercapai. Dahulu, saat menduduki kelas 3 SMP, saya sangat menyukai hal-hal yang berbau Jepang. Bukan hanya manga dan anime , namun juga musik J-pop serta serial televisi Jepang. Bahkan, saya pun bertekad untuk mempelajari bahasanya, agar suatu saat bisa tinggal di sana selama beberapa tahun. Karena tak kunjung menemukan tempat les untuk bahasa Jepang yang sesuai, akhirnya saya memutuskan untuk belajar sendiri dengan cara otodidak. Saya pun meminjam buku-buku panduan serta kamus untuk belajar bahasa Jepang dari tante saya yang pernah tinggal 5 tahun di Jepang, untuk menemani paman saya yang mendapatkan beasiswa disana. Meski begitu, saya tak bisa meminta beliau mengajari saya, karena kami hanya bertemu sesekali pada pertemuan keluarga, dan juga karena beliau baru mempunyai anak, jadi otomatis waktu dan perhatiannya akan terfokus pa...

Respect for women

I feel sad and outraged upon witnessing many kinds of discrimination, harrasment, violence, and judgement that women experience throughout their daily lives. Although I do not completely agree with the idea of feminism, I believe that women should have the right to stand up for themselves. In developing countries, where the patriarchy system is still dominating in most sectors, I find this hard to achieve, as women often become an object of the aforementioned. People, especially men, who are less educated in developing countries have a tendency to disrespect women in many ways, mostly caused by their lack of understanding of women's rights to protect themselves. But I intend to not view this from a gender perspective, since women are mostly judged in society by the same sex. It's easy for women to feel jealousy towards other women. Men are the ones who face less judgement, while women have to endure being judged, often by both sexes. Behaving or dressing differently can easily...

Menyikapi perbedaan

Sering sekali kita menyaksikan fenomena berikut di berbagai negara; golongan minoritas ditindas dan dirampas hak-haknya oleh golongan mayoritas. Entah itu dalam hal ras, suku, agama, ataupun kebangsaan, kaum mayoritas terkadang mempunyai semacam keangkuhan terhadap kaum minoritas sehingga merasa bahwa mereka lebih berkuasa karena secara kuantitatif mereka lebih unggul. Secara pribadi, menurut saya perbuatan ini mencerminkan ketakutan golongan mayoritas yang tak beralasan. Mereka mengekang hak-hak kaum minoritas, mungkin salah satu sebabnya karena mereka takut. Mereka takut jika kelak kaum minoritas akan mendominasi, dan mereka merasa terancam akan hal itu. Oleh karena itu, mereka pun berusaha membatasi kegiatan mereka, dengan tujuan agar kaum mayoritas akan selalu unggul. Salah satu contohnya dapat kita lihat di Indonesia sendiri, dimana golongan Islam Sunni seringkali mengekang hak-hak kaum Syiah, bahkan menganggap mereka bukan Islam dikarenakan perbedaan pemahaman dalam menganut ag...

Makna dari sebuah perpisahan

Hari ini, saya beserta teman-teman seangkatan baru saja melaksanakan upacara kelulusan atau yang biasa disebut dengan wisuda. Karena kami merupakan angkatan pertama, maka jumlah muridnya tidak banyak. Acaranya pun tidak begitu spektakuler, hanya diadakan di gedung biasa, bukan di ballroom hotel bintang lima. Namun bagi saya, upacara wisuda hari ini sangat berkesan. Sekalipun acaranya tidak mewah, namun banyak keceriaan (dan tentu saja, kesedihan) yang ada di dalamnya. Di satu sisi, saya sedih karena harus berpisah dengan teman-teman dan guru-guru yang telah begitu dekat dengan saya. Bersama mereka, saya telah melalui banyak hal yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Di samping itu, saya juga belajar banyak hal dari mereka, hal-hal selain pelajaran akademik yang diajarkan. Dan buat saya, justru hal itulah yang paling berharga. Saat acara, lebih banyak tawa yang ada dibanding air mata. Namun saat ini, saat saya teringat kembali bahwa siang tadi mungkin merupakan pertemuan terakhir k...

Mari majukan bangsa ini, kaum muda.

Sebagai negara berkembang yang menempati posisi keempat dalam jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia mempunyai bonus demografi yang cukup besar, yang sebagian besar di antaranya adalah anak muda. Indonesia tergolong negara yang mempunyai piramida penduduk ekspansif, yang berarti bahwa usia tenaga kerja menempati lebih dari setengah penduduk Indonesia, melebihi usia non-tenaga kerja. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa dengan jumlah anak muda yang cukup banyak, Indonesia punya peluang untuk maju dengan memanfaatkan dan mengasah potensi anak muda sebaik mungkin. Dari fakta yang saya sebutkan di atas, terlihat jelas bahwa kita, sebagai anak muda, merupakan aset terbesar bangsa ini. Kitalah yang kelak akan menggantikan golongan tua dan mengarahkan bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik. Ingatlah, sejak sejarah Indonesia bermula, para kaum muda-lah yang selalu berinisiatif untuk melakukan perubahan dan menggerakkan bangsa ini. Para pemudalah yang membuat Sumpah Pemuda pada tahun...

A very saint-like post

Bagi saya, ketulusan sekarang sudah merupakan barang yang langka, terutama di tengah hiruk-pikuk kota besar, dimana sebagian besar masyarakatnya cenderung bersikap individualis, atau hanya mementingkan diri sendiri. Saya menyaksikan sendiri bahwa perlahan-lahan seiring zaman, rasa tulus ikhlas dalam berinteraksi dengan orang lain telah jauh berkurang dibandingkan dengan dulu. Dari buku-buku yang saya baca, saya melihat bahwa ketulusan dan keikhlasan pada zaman dulu begitu dihargai, dan banyak yang berusaha menanamkan ini pada generasi selanjutnya. Namun dalam interaksi keseharian dengan orang lain, saya melihat bahwa kenyataan di lapangan jauh berbeda. Terkadang, ketika saya mencoba melakukan segala sesuatu dengan tulus, hal itu malah dianggap aneh, bahkan kerap ditertawakan. Banyak juga yang berkomentar bahwa saya terlalu serius dalam menanggapi segala sesuatu. Saya pikir, mungkin ucapan mereka ada benarnya. Bisa jadi karena karakter saya yang apa adanya, saya pun menganggap segala h...