Posts

Makna dari sebuah perpisahan

Hari ini, saya beserta teman-teman seangkatan baru saja melaksanakan upacara kelulusan atau yang biasa disebut dengan wisuda. Karena kami merupakan angkatan pertama, maka jumlah muridnya tidak banyak. Acaranya pun tidak begitu spektakuler, hanya diadakan di gedung biasa, bukan di ballroom hotel bintang lima. Namun bagi saya, upacara wisuda hari ini sangat berkesan. Sekalipun acaranya tidak mewah, namun banyak keceriaan (dan tentu saja, kesedihan) yang ada di dalamnya. Di satu sisi, saya sedih karena harus berpisah dengan teman-teman dan guru-guru yang telah begitu dekat dengan saya. Bersama mereka, saya telah melalui banyak hal yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Di samping itu, saya juga belajar banyak hal dari mereka, hal-hal selain pelajaran akademik yang diajarkan. Dan buat saya, justru hal itulah yang paling berharga. Saat acara, lebih banyak tawa yang ada dibanding air mata. Namun saat ini, saat saya teringat kembali bahwa siang tadi mungkin merupakan pertemuan terakhir k...

Mari majukan bangsa ini, kaum muda.

Sebagai negara berkembang yang menempati posisi keempat dalam jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia mempunyai bonus demografi yang cukup besar, yang sebagian besar di antaranya adalah anak muda. Indonesia tergolong negara yang mempunyai piramida penduduk ekspansif, yang berarti bahwa usia tenaga kerja menempati lebih dari setengah penduduk Indonesia, melebihi usia non-tenaga kerja. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa dengan jumlah anak muda yang cukup banyak, Indonesia punya peluang untuk maju dengan memanfaatkan dan mengasah potensi anak muda sebaik mungkin. Dari fakta yang saya sebutkan di atas, terlihat jelas bahwa kita, sebagai anak muda, merupakan aset terbesar bangsa ini. Kitalah yang kelak akan menggantikan golongan tua dan mengarahkan bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik. Ingatlah, sejak sejarah Indonesia bermula, para kaum muda-lah yang selalu berinisiatif untuk melakukan perubahan dan menggerakkan bangsa ini. Para pemudalah yang membuat Sumpah Pemuda pada tahun...

A very saint-like post

Bagi saya, ketulusan sekarang sudah merupakan barang yang langka, terutama di tengah hiruk-pikuk kota besar, dimana sebagian besar masyarakatnya cenderung bersikap individualis, atau hanya mementingkan diri sendiri. Saya menyaksikan sendiri bahwa perlahan-lahan seiring zaman, rasa tulus ikhlas dalam berinteraksi dengan orang lain telah jauh berkurang dibandingkan dengan dulu. Dari buku-buku yang saya baca, saya melihat bahwa ketulusan dan keikhlasan pada zaman dulu begitu dihargai, dan banyak yang berusaha menanamkan ini pada generasi selanjutnya. Namun dalam interaksi keseharian dengan orang lain, saya melihat bahwa kenyataan di lapangan jauh berbeda. Terkadang, ketika saya mencoba melakukan segala sesuatu dengan tulus, hal itu malah dianggap aneh, bahkan kerap ditertawakan. Banyak juga yang berkomentar bahwa saya terlalu serius dalam menanggapi segala sesuatu. Saya pikir, mungkin ucapan mereka ada benarnya. Bisa jadi karena karakter saya yang apa adanya, saya pun menganggap segala h...

Kuliah

Saat ini, saya sudah menyelesaikan Ujian Nasional dan tengah bersiap-siap untuk memasuki perguruan tinggi. Awalnya, saya berniat untuk memasuki PTN dalam negeri, karena itu, selama setahun terakhir saya teberusaha untuk belajar sekeras mungkin. Namun tiba-tiba tujuan saya berbelok arah ketika saya didaftarkan orangtua saya untuk mengikuti kompetisi beasiswa S1 di Jepang. Mengunjungi negara Jepang memang sudah merupakan impian saya sejak lama. Saya pun telah meniatkan diri saya agar kelak bisa berkuliah dan menikmati kehidupan sehari-hari di sana, tidak sekedar mengunjungi seperti layaknya turis. Setelah melalui beberapa proses seleksi, kini saya tengah bersiap untuk memasuki proses seleksi tahap terakhir. Universitas yang akan saya masuki ini merupakan universitas swasta yang menampung banyak mahasiswa internasional dari luar Jepang, bahkan pembelajarannya pun menggunakan bahasa Inggris. Mata kuliah serta program-program mereka begitu menarik, karena mereka tidak hanya memfokuskan pa...

A mere thought

In life, we often waste our energy worrying about things that might not even happen. We fill our head with negative thoughts that consume our mind and eventually gets us nowhere better than where we are right now. We're too busy with our thoughts that we forget to stop and take a step back, and look at what we've been through, what we've achieved. We get too focused on our wrongdoings instead of appreciating the good things within ourselves, then we tend to underestimate ourselves. Most of the time we do not realize the capabilities that lies beneath us.

Kemunduran generasi muda

Jujur, saya amat kecewa dengan mayoritas generasi muda yang ada sekarang ini. Karena saya juga terhitung dalam kategori anak muda, bukan berarti saya melecehkan kawan-kawan seangkatan saya dan menganggap diri saya yang terbaik. Bukan, bukan begitu. Akhir-akhir ini saya sering sekali melihat, terutama pada kaum kelas menengah, banyak anak muda yang hanya menghabiskan waktunya untuk bermain gadget, sebentar-sebentar mengambil selfie, dan merasa wajib untuk mengunggah dan mengumumkan segala aktivitas yang dia lakukan di Path (atau sosial media lainnya). Dan terutama, dalam sekolah, saya lihat banyak diantara mereka yang menomorduakan sekolah dan lebih memilih untuk meributkan tempat hangout yang asik untuk malam Minggu berikutnya. Mereka santai dalam menempuh pendidikan dikarenakan hidup mereka sudah mapan disokong orangtua, makanya mereka enggan keluar dari zona nyaman dan memilih untuk terus berkubang di dalamnya. Banyak juga yang tak mempunyai kesadaran untuk menuntut ilmu yang sebena...

Menyambut tahun baru

Saat ini, kita telah memasuki tahun 2015, meninggalkan tahun 2014 yang mungkin bagi sebagian besar dari kita menorehkan kenangan yang begitu dalam dan siap membuka lembaran baru pada tahun baru. Mungkin sebagian besar dari kalian lebih suka membuat resolusi, namun saya tidak. Bagi saya resolusi hanyalah istilah lain untuk tujuan-tujuan kecil yang dibuat dalam hidup, a goal, to be exact. Hanya saja banyak orang yang terlalu mengistimewakannya dalam rangka tahun baru. Saya memang tidak membuat resolusi, namun setelah melihat kembali berbagai pencapaian dan masa-masa keterpurukan saya selama tahun 2014, dapat dibilang bahwa saya telah berkembang banyak sebagai individu. Saya telah menjadi orang yang berbeda dibandingkan awal tahun 2014. Telah banyak kesalahan yang saya lakukan, yang sayangnya semua kesalahan itu menuju pada penderitaan secara fisik maupun mental. Namun saya bersyukur karenanya, tanpa itu semua saya takkan pernah belajar dan takkan pernah bisa menjadi orang yang seperti ...